Selasa, 27 Maret 2012

Indahnya Ikatan Pernikahan (Tak lekang di makan waktu) Karena Alloh dan mengikuti sunnah Rosululloh

Agar Selalu Seperti Pengantin Baru

Seorang lelaki yang telah menikah setahun sebelumnya, menghadiri sebuah walimah. Pakaiannya yang rapi, wajahnya yang sumringah serta bahasa tubuhnya membuat banyak orang mengira dialah pengantinnya.
“Tampaknya kau masih seperti pengantin saja,” kata salah seorang temannya.
“Dia memang lelaki yang romantis,” ujar teman lainnya.
“Aku akan selalu menjadi pengantin baru.” Jawab lelaki itu penuh ketenangan.
Kisah yang dikutip Muhammad Al-Khady dalam bukunya Renew Your Marriage itu sungguh luar biasa. Di saat banyak pasangan merasakan kejenuhan dalam pernikahannya, ternyata ada pasangan-pasangan yang tetap merasakan bahwa hari-hari itu laksana bulan madu.
Ketika banyak rumah tangga dihinggapi perselisihan, bahkan malam yang dingin tak mampu menyejukkan panasnya suasana hati, ternyata ada pasangan yang –meskipun sudah menikah sangat lama- merasakan terbenamnya sang surya sebagai tibanya malam pertama.
Ketika banyak suami istri tak lagi merasakan kebahagiaan karena memperturutkan kebosanan, ternyata ada suami istri yang mampu mengelola kehidupan rumah tangganya sedemikian rupa sehingga meskipun rumah tangga telah berjalan sejak belasan tahun lalu, mereka masih merasa sebagai pengantin baru.
Lalu bagaimana caranya agar pengantin lama tetap merasa sebagai pengantin baru? Berikut sebagian langkah yang perlu ditempuh oleh pasangan muslim :

1. Memperbaharui niat dan komitmen

Bisa dikatakan, inilah poin paling utama dari kunci kebahagiaan dalam kehidupan berumah tangga. Jika niat suami istri ketika menikah adalah niat yang ikhlas –memenuhi panggilan Allah, mengikuti sunnah Rasulullah, menjaga diri, memelihara kehormatan, menyalurkan “potensi” secara halal, melahirkan generasi Islami- maka lamanya pernikahan takkan membuat maknanya berkurang.
Banyak pasangan yang bermasalah karena niat awal menikah sudah bermasalah. Maka yang menjadi orientasi utama adalah kecantikan, ketampanan, tubuh yang seksi, harta, dan sejenisnya. Begitu lewat beberapa tahun kecantikan memudar, wajah tak lagi rupawan, tubuh yang seksi berubah gendut, harta berkurang… ketika alasan itu tiada, lenyap pula cinta.
Niat dan komitmen-lah yang menjelaskan mengapa orang tua dan kakek nenek kita enjoy dalam mengayuh biduk rumah tangga, sangat berbeda dengan pasangan generasi hari ini yang kerap dilanda kasus perselingkuhan hingga cerai.

2. Selalu belajar memahami pasangan

Semakin lama berumah tangga semestinya membuat kita semakin mengenal dengan lebih dalam siapa suami atau istri kita. Bagaimana karakternya, apa kesukaannya, apa yang tidak disukainya, dan sebagainya.
Dengan pemahaman yang lebih komperehensif itu semestinya kita juga lebih mudah membuat pasangan bahagia, sekaligus lebih mencintai kita. Yang sangat disayangkan, banyak orang yang egois untuk menang dengan mengalahkan orang lain, termasuk pasangan. Artinya, kita sering ingin dipahami tetapi kita tidak mau memahami. Kita ingin dicintai tetapi tidak berusaha mencintai. Kita ingin bahagia tetapi tidak berusaha membuatnya bahagia.
Mengapa kita tidak memulainya dari diri kita. Percayalah, ketika kita mencintainya dengan tulus, “gelombang” itu akan mengundang resonansi yang membawa cinta sama.

3. Selalu belajar berkeluarga lebih baik dan lebih mesra

Belajar bisa melalui pengalaman, pelatihan, atau membaca. Semakin banyak ilmu berkeluarga yang kita pelajari, insya Allah semakin banyak bekal kita. Di zaman sekarang tersedia banyak sarana; mulai dari post-wedding training (daurah pasca nikah) hingga buku-buku pernikahan dan seni komunikasi.
Banyak kasus rumah tangga terjadi karena kurangnya komunikasi dan perhatian. Seorang konsultan keluarga bercerita bahwa sejumlah kasus perselingkuhan di awali oleh timbulnya kesepian. Merasa kesepian karena suami/istrinya jarang di rumah, lebih mengutamakan karir atau alasan lain. Di saat dibutuhkan ia tiada. Di saat perlu bicara tak ada yang mendengarkan. Di saat kedingininan, selimut itu hilang entah ke mana. Dari sana segalanya bisa bermula.

4. Menjaga kualitas “hubungan” dan mencipta variasi

Kadang sebagian istri tidak peduli dengan betapa monotonnya malam mereka. Apalagi ditambah dengan tampilan yang apa adanya. Bukan berarti suami yang seperti itu tidak ada. Bisa-bisa juga sama, atau lebih banyak. Karenanya suami istri perlu memperhatikan dirinya sendiri; tubuhnya, penampilannya, baunya, dan seterusnya. Bukankah Rasulullah pernah memberi solusi kepada seorang sahabat untuk merawat penampilannya dan solusi itu mencegahnya dari perceraian? Seperti itulah seharusnya.
Dengan demikian, olah raga itu penting. Menjaga makanan sehat juga penting. Memakai parfum saat bersama suami/istri itu penting. Memilih pakaian di waktu malam juga penting. Sering orang melakukan hal terbalik. Ketika berada di luar rumah luar biasa rapi, namun ketika berduaan dengan suami/istri tampil acak-acakan.
Menjaga kualitas “hubungan” dan menciptakan variasi-variasi dalam melewati malam merupakan kunci lain agar merasa seperti pengantin baru. Untuk alasan itu, ternyata ada suami istri yang membeli “baju tidur” lebih mahal dari jubah atau gamisnya. Dan ternyata tips itu cukup mujarab menstimulasi mereka merasa seperti pengantin baru.

5. Berdoa

Ini poin yang sangat penting, tidak tergantikan. “Ud’uunii aatajib lakum.” Berdoalah kepadaKu niscaya Kukabulkan, demikian firmanNya. Termasuk dalam urusan rumah tangga, berdoalah. Sebut nama dia yang kau cinta dalam doa, lalu perhatikan efeknya!
Demikian beberapa poin yang perlu dilakukan agar selalu seperti pengantin baru. Tentu, masih banyak poin lain di luar yang lima itu. Wallaahu a’lam bish shawab. [BK ]
Sumber : BeDa
Posted by Ade Permana

Sumber  :  http://www.salimah.or.id/agar-selalu-seperti-pengantin-baru  (Terima kasih tuk pengasuh link ini)

Kamis, 15 Maret 2012

Jumpa kembali

Assalamu'alaikum warrahmatullahi Wabarakatuh.


detik berganti detik
hari berganti hari
bulan berganti bulan
tak terasa waktu berjalan
banyak sudah peristiwa di alami dan moment terlewati
terlintas kilas balik perjalanan
merenung dalam hening........menginstrospeksi diri.....
sudahkan lalui dengan iman dan taqwa

Jakarta, 16 Maret 2012


Kamis, 22 September 2011

Tips mengusir tikus dari rumah

Rasanya sangat menyebalkan bila di rumah kita ada hewan pengerat ini, seperti yang saya alami beberapa waktu yang lalu. Tips ini saya peroleh dari teman saya juga sudah "berpengalaman" mengatasi masalah ini. dan ternyata caranya tidak sulit

Ambillah beberapa kapur barus/kamper, lalu tebarkan di tempat yang sekiranya tikus sering lewat. Insya Allah tikus tidak akan kembali ke rumah kita karena hewan itu tidak suka dengan aroma menyengat dari kapur barus/kamper tersebut.

Smoga bermanfaat...^_^

Halawatul Fikr

Subhanallah...dalam blog ini terdapat untaian kata2 nan indah. Halawatul Fikr (tks tuk picnya ya mbak)
Assalamualaikum Wr.Wb.


TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM ,semoga Allah menerima menerima segala amal dan ibadah kita di bulan Ramadhan.
 
2zya742 Kartu Kartu Ucapan Lebaran dan Idul Fitri Unik dan Cantik






Minggu, 17 April 2011

Kenangan FPIPS, IKIP Jakarta

Menyusuri jalan diantara rindangnya pepohonan
Melangkah pasti menyosong bekal hari esok
Terngiang senda gurau riang tawa bersama
Taman kecil disudut Musholla menanti tuk dihampiri
Musholla kecil setia menemani rekan-rekan bertemu dengan Sang Khalik
Lobby luas membentang rindu wajah-wajah segar nan ceria
Dosen killer
Dosen sabar
Dosen cantik
Dosen...........
Kapankah kenangan itu dapat kurasakan kembali.



Rabu, 06 April 2011

INSYA ALLAH KITA DIJAUHKANDARI SIFAT MALAS


Ketika Rasa Malas Menyerang Diri

Sabtu, 02/04/2011 15:07 WIB | email | print
Oleh Syaripudin Zuhri
Terkadang si Amat, sebut saja begitu namanya, mau mengerjakan apa saja malasnya bukan main, mau olah raga malas, takut keringatan nanti bau! Mau kemping malas, nanti kesasar di jalan. Mau belajar kursus apa gitu, juga malas. Habis waktunya malam sih, sudah lelah duluan habis kerja seharian. Mau ngaji juga malas, baru berapa ayat sudah jatuh terlelap di bangku! Mau nulis di Internet, sekedar berbagi kepada kawan-kawan di dunia maya, juga malas! “Ngapain nulis, di blog sudah banyak yang nulis, bahkan semua yang ngeblog, biasanya yang nulis, lalu siapa yang baca?” Begitu pikir si Amat, jadi dianya tambah malas nulis.
Begitu juga dengan si Amit (nama rekaan) mahasiswa yang lagi malas-malasnya, padahala baru saja tingkat pertama, eh penyakit malasnya kambuh! Penyakit malas sejak SMA dulu, maunya hura-hura terus! Mau kerja apa saja malas, apa lagi belajar atau membaca buku, susahnya minta ampun! Si Amat baru giat bila buka komputer… Untuk main game! Coba waktu itu di SMA, ketika menjelang ujian SMA, yang dibaca di Internet bukan materi yang berhubungan dengan pelajaran, yang dibaca email dan chatingan dengan teman-temannya di dunia maya.
Nah penyakit itu masih dibawa sampai dia kuliah, padahal kuliah itu bukan lagi seperti anak-anak ketika di SMP atau di SMA yang masih “disuapin” terus oleh gurunya, mahasiswa itu harus mandiri dan belajar sendiri mencari materi-materi yang berhubungan dengan mata kuliah yang sedang diambilnya, bukan malahan main game atau bersantai-santai dan baru belajar ketika masuk semesteran, maka lahirlah apa yang disebut SKS (Sistem Kebut Semalam!) Kalau begitu caranya, ya apa bedanya ketika si Amit di SMA dulu, tak ada perubahan! Si Amit tetap malas-malasan belajarnya, malas-malasan kuliahnya.
Lain lagi dengan X, kita sebut saja begitu, Mahasiswi tingkat dua pada sebuah fakultas yang beken di Ibu Kota, juga punya penyakit yang sama, seprti si Amat dan si Amit, penyakit malas. Iya malas ngapain-nggapain, Dewi malas baca dikatat, malas ke perpustakaan, malas kuliah, sebal ngeliatin dosennya yang itu-itu juga, malas membantu orang tua, apa lagi membantu ibu di rumah memasak, ”wah mau muntah mencium bumbu-bumbunya,” katanya bersemangat. Diskusi dengan teman-teman di kampus, dia juga tak mau, “malas” katanya!
Dan mungkin banyak sekali orang yang dihinggapi rasa malas tersebut, kebanyakan manusia memang inginnya, ya berleha-leha, ingin santai, ingin rileks dan inginya “tidur-tiduran” saja atau ingin duduk di kursi malas, sambil minum kopi tubruk membaca koran di beranda rumah.
Wah pokonya yang enek-enak saja, sementara hidup itu tidak seenak yang dibayangkan. Banyak sekali masalah yang timbul dalam hidup dan kehidupan ini yang mesti diselesaikan. Dan itu bukan hanya menimpa atau mengena orang-orang yang memang berkerja sebagai pimpinan, baik pimpinan tingkat paling rendah di pemerintahan, seperti kepala Desa atau Lurah samapai ke tingkat paling tinggi di pemerintahan yaitu seorang Presiden!
Dan persolan juga buka hanya menimpa orang-orang miskin yang untuk mencari ”sesuap dua suap nasi”-saja susahnya bukan main. Begitu juga orang-orang yang sedang mencari pekerjaan alias pengangguran, sudah mencoba mencari ke sana ke mari, ngelamar kerjaan ke berbagai perusahaan, mengirim lamaran pekerjaan ke berbagai perusahaan, bukan hanya satu-dua lamaran pekerjaan, bukan hanya sepuluh dua-puluh lamaran pekerjaan, tapi ratusan bahakan mungkin ribuan lembar surat lamaran pekerjaan yang sudah dikirimkan, satupun tak ada jawaban! Jika adapun, hanya pemberitahuan “MAAF, TAK ADA LOWONGAN PEKERJAAN”
Iya, mencari pekerjaan bagitu sulitnya di tengah-tengah krisis ekonomi yang berkepanjangan sekarang ini. Dan seandainyapun diterima pekerjaan, itu hanya menjadi pegawai kontrakan yang hanya enam bulan saja, itupun masih harus “memberi sesuatu” pada pihak ketiga sebagai perantara, sebuah yayasan yang menjadi perantara pekerja dengan perusahaan!
Aneh, ngelamar pekerjaanpun harus pakai perantara, padahal pihak pencari kerja bisa datang sendiri ke perusahaan yang dituju, namun entah peraturan dari mana, sekarang ini sebuah perusahaan baru mau menerima pekerja via sebuah yayasan, ada apa ini?
Sesuatu yang semula mudah, sekarang ditambah lagi dengan jalur birokrasi melalui sebuah yayasan penyalur tenaga kerja! Sehingga sang pencari kerjapun akhirnya dibuat malas dengan sistem yang ada! Ya pengangguran menjadi tambah banyak dengan sistem sekarang ini dan pekerjapun seperti sapi perah yang tak punya hak bersuara!
Mereka hanya bekerja, bekerja dan bekerja, padahal nasib mereka seperti berada di ujung tanduk, karena kapanpun sang majikan, dalam hal ini penguasa, dapat memecatnya, sang pekerja hanya bisa gigit jari, tak bisa menuntut ke mana-mana. Dan kalaupun dituntut sang majikannya, bisa menjadi pihak pengusaha yang akan menang di ”meja hijau”.
Bagitu juga yang sudah bekerja dan banyak orang yang sudah bekerja menjadi tambah malas, padahal sebelum bekerja atau ketika sedang mencari pekerjaan begitu bersemangat dan mengapa setelah bekerja, apa lagi setelah bekerja di tempat yang sama dalam hitungan tahunan, penyakit malas menjadi bertambah-tambah, makanya adalah istilah ”monday syndrome” Situasi yang membuat malas, ketemu hari Senin, karena Senin adalah hari pertama bekerja atau hari pertama kuliah atau sekolah.
Lalu bagaimana mengatasinya? Bagaimana mencari solusi dari penyakit malas tersebut? Saya kemukan cara-cara berikut ini, semoga bermanfaat:
1. Allahumma Paksain.
Ini terdengar seperti main-main, lucu! Kok berdoa seperti? Ya Allah … paksakan! Ya itulah doa yang tak ada dalam Al-Qur’an atau hadist, tapi bisa mujarab! Kok bisa? Mari kita coba, ketika anda bangun tidur, apa lagi lagi dingin-dinginnya musim dingin di Rusia, wah bisa-bisa alasan untuk tidak sholat subuh bertambah-tambah. Dalam selimut tebal dan dengan penghangat ruangan, karena di luar suhu mencapai minus 25⁰ C!
Bisa anda bayangkan betapa mengigilnya bila di luar dan di dalam kamar selimut tebal menghangatkan badan, adzan subuh tak terdengar, memang tak ada adzan jauh dari Masjid, maka bertambah alasan untuk tidak bangun sholat subuh!
Lalu bagaimana caranya? Ya itu tadi, “Allahumma paksain!” Singkirkan selimut, jika perlu lompat dari tempat tidur, bangun! Paksakan untuk bangun dan minta pertolongan pada Allah agar dibangunkan!
Mengapa untuk sholat subuh bangun saja susah? Karena sholat subuh disaksikan malaikat dan ada pengiring sholat subuh, yaitu sholat fajar dua rokaat, atau sholat qobliyah subuh, sholat yang satu ini tak pernah ditinggalkan Rosulullah SAW, karena menurut beliau ganjarannya melebihi luasnya langit dan bumi, karena sangat besarnya pahala yang diberikan, maka tantangnyapun berat! Yaitu tadi, susah sekali bangunnya, perlu pemaksaan diri untuk bangun!
2. Bersyukur Banyak Pekerjaan
“Apa-apain sih, banyak pekerjaan kok di suruh bersyukur?” Mungkin ada yang berpendapat itu. “Orang sudah lelah dengan berbagai macam pekerjaan, eh malah di suruh bersyukur, ada-ada saja!” Mungkin ada juga yang komentar demikian.
“Malas ah… orang lagi pusing mikirin banyak kerjaan, eh pakai disuruh bersyukur lagi, macem-macem saja!” Mungkin B protes begitu.
“Au ah. Capek-capek nih kerjaan numpuk!” si C ngamuk-ngamuk, karena di mejanya kerjaan bertumpuk-tumpuk!
“Sana nyingkir jauhan, gue lagi sibuk nih, pekerjaan gue banyak banget!” Kata si D ketika temanya mendekati mau diajak jalan-jalan.
Wah pakoknya anda bisa menemukan kalimat itu sebanyak-banyaknya, baik yang bekerja di kantor-kantor pemerintah, BUMN atau BUMS, juga yang bekerja di sektor-sektor lainnya. Banyak sekali yang mungkin saja putus asa karena diserbu oleh pekerjaan yang sedemikian banyaknya. Lalu bagaimana menghadapinya, solusinya? Ya bersyukur!
Kenapa haru bersyukur dengan pekerjaan yang banyak atau bertumpuk-tumpuk? Alasanya:
  1. Alhamdulillah, anda masih punya kerjaan, coba lihat di luar sana, berapa banyak orang yang menganggur, bukan ribuan orang tapi jutaan orang menganggur di Indonesia! Bayangkan… betapa banyak orang yang menganggur dan anda sekarang sedang bekerja, apa bukan kebahagiaan namanya? Apa bukan nikmat Allah namanya? Maka syukurilah ketika anda banyak pekerjaan.
  2. Alhamdulillah, dengan banyak pekerjaan pahala anda akan semakin bertambah, karena pekerjaan adalah ibadah. Apa lagi kalau yang bekerja adalah bapak-bapak. Sebagai kepala keluarga seorang bapak adalah wajib mencari nafkah untuk anak istrinya, seorang bapak wajib bekerja untuk keluarganya. Bukankah pengertian hukum wajib adalah fikih berarti sesuatu yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan kalau ditinggalkan malah berdosa! Jadi otomatis bila anda bekerja, apa lagi pekerjaannya banyak ya pahalanya juga bertumpuk-tumpuk!
  3. Alhamdulillah, anda berkerja, karena bekerja juga adalah ibadah, bekerja adalah rasa syukur yang nampak dalam kehidupan sehari-hari. Allah SWT dan para malaikatnya menjadi saksi ketika anda bekerja karena Allah, lillahi ta’ala! Bekerja adalah ibadah, dengan motovasi tersebut semoga anda semakin giat bekerja!
3. Bahagialah!
Apapun yang anda kerjakan bahagialah, syukurilah. Karena dengan bekerja selain mendapat hasil berupa uang, kerjaan juga menghasil sesuatu di luar materi! Orang yang mempunyai pekerjaan akan bahagia, dia sudah bisa mengaktualisasikan dirinya dihadapan manusia lain. Orang bekerja akan bahagia, energi, akal, pikiran, perasaannya ikut bersatu padu membentuk sebuah keharmonisan karya Illahi yang ada pada dirinya.
Orang yang berkerja yakin akan kebahagiaan hidup yang telah dijanjikan olehNya, apa lagi bekerja pada tempat yang halal. Coba anda bayangkan selain anda mendapat materi, anda juga mendapat kebahagiaan dan mendapat pahala dariNya? Coba apa yang kurang?
Nah berhentilah mengeluh banyak pekerjaan, berhentilah mengeluh mendapat pekerjaan yang menumpuk, berhentilah mengeluh “disuguhi” atasan pekerjaan semeja! Sambutlah dengan senyuman, katakanlah “Alhamdulillah rezeki datang lagi!” Sambutlah dengan kebahagiaan, katakanlah ”Alhamdulillah pahala datang lagi!” Ayo senyum… tuh lihat pekerjaan datang lagi,Alhamdulillah!